MOTIVASI UNTUK REMAJA MASJID

19 Jan Sebuah Motivasi untuk Remaja Masjid

Oleh : Imam Chanafi

Motivasi Untuk Remaja Masjid Remaja Masjid Agung Gresik

SHARRING AWWALAN

Sekretaris I Dmi

Motivasi Untuk Remaja Masjid

Saat ini banyak manusia diliputi keresahan karena perubahan zaman begitu cepat, apa yang tahun kemarin dianggap sebagai hal baru belum mampu sepenuhnya diikuti oleh kebanyakan masyarakat, namun sudah lahir sesuatu yang baru lagi. Di dunia bisnis, perdagangan dan peluang-peluang lainnya menjadi tidak banyak yang bisa diharapkan oleh manusia masa kini jika sudah tertinggal perkembangan Informasi dan Telekomunikasi. Maka benar jika kemudian ada yang bilang Andai Indonesia ini tidak saking suburnya maka pasti sudah banyak manusia kelaparan karena masyarakatnya banyak yang kalah bersaing dalam merebut berbagai kesempatan. Pendek kata grafik orang-orang gelisah karena menganggur di Indonesia ini tidak pernah terjadi penurunan. Entah bagaimana dengan kita sendiri, apakah juga termasuk orang yang gelisah karena khawatir turut berperan menambah angka pengangguran tadi atau malah yang santai-santai saja, apatis dan tidak perlu merasa gelisah.

Santai dalam artian tidak grusa-grusu adalah sikap baik jika itu dimiliki orang yang sudah punya visi dan misi tentang masa depannya. Tapi jika santai itu dibiarkan mengalir karena tidak tahu harus berbuat apa, maka tentu ini patut kita khawatirkan. Pasalnya mau tidak mau, siapaun kita adalah pemimpin. Lebih-lebih jika nanti sudah berumah tangga dan memiliki keluarga sendiri. Karena itu sungguh tidak realistis jika kita tidak punya visi dan misi akan bagaimana kita membentuk diri kita di masa depan. Begitu lepas dari usia 18 tahun semestinya kita sudah tidak layak lagi banyak berharap dari sokongan orang tua. Ironisnya ajaran Islam ini justru dipraktekkan oleh pemuda-pemuda non muslim. Di Amerika dan negara-negara maju lainnya seprti Jepang, Singapore hampir seluruh mahasiswanya adalah pemuda-pemuda mandiri yang seratus persen biaya sekolahnya didapat dari keringat mereka sendiri. Sementara masih banyak di sekitar kita sekedar uang untuk turut nyangkruk di warung kopi pun masih minta orang tua. Subhanallah, ternyata mungkin kita juga masuk dalam kategori pemuda manja tersebut. Akankah semua kita sikapi dengan rayuan diri sendiri dan mengalir mengikuti gaya dari yang kebanyakan dilakukan orang (buka QS.Al-an’am/6 : 116). Jika benar itu prinsip yang kita anut, buat apa dulu susah-susah kuliah, tentu terlalu mahal biaya yang kita keluarkan jika ilmu yang kita peroleh hanya sekedar maher cangkru’an. Cangkru’an memang kadang kita perlukan, namun menjadi tidak bernilai jika kita jadikan rutinitas tanpa adanya efek positif yang kita dapatkan. Nabi sendiri menyatakan “Termasuk sempurnanya sikap seorang muslim adalah jika dia mau meninggalkan perilaku-perilaku yang tanpa guna”. Hal tersebut mengajarkan agar kita sadar betul alias tidak waton grubyuk tentang awal hingga akhir dari semua yang kita lakukan.

REMAS DAN REALITAS LINGKUNGAN

Seorang guru pernah berkata : “ Pecundang dapat dibagi menjadi dua ; Mereka yang berpikir tapi tidak melaksanakannya, dan mereka yang melaksanakannya tapi tidak berpikir”. Ada pemikir dan Pelaku, dua jenis orang ini banyak kita dapatkan dalam kepengurusan masjid, termasuk juga remaja masjid, sehingga tidak heran jika banyak masjid yang sudah lengkap dengan kepengurusannya, tapi nyaris tidak ada bedanya dengan masjid yang tanpa pengurus. Yang lebih parah lagi jika keadaan tersebut juga memberikan efek nyaris tanpa beda antara ummat yang sabah masjid dengan yang hanya setahun sekali masuk masjid. Na’udzubillahi mindzaalik.

Kini saatnya kita harus berikrar. Siapapun kita, mungkin yang selama ini sudah banyak berpikir maka perlu lebih banyak lagi berbuat, dan yang selama ini sudah berbuat maka perlu lebih banyak lagi berpikir. Harapannya tiada lain agar 1066 masjid yang ada di Kabupaten kita ini dapat memberi konstribusi bagi upaya penyelamatan akhlaq bangsa. Bukankah kita semua dicipta Allah tanpa sia-sia, bukankah kita diberi kesempatan hidup untuk sebuah tugas penyelamatan, bukankah kita diutus untuk tugas penyempurnaan akhlaq diri maupun ummat, bukankah rugi jika kepercayaan Allah tersebut kita sia-siakan ?

MULAI DARI MANA

Mulai dari mana, bagaimana menyelamatkan, bukankah diri ini sendiri orang yang perlu diselamatakan ? bagaimana bisa mengentaskan sebab rasa-rasa diri ini sendiri adalah orang yang perlu dientaskan? Ada hal mendasar yang akhir-akhir ini sering diragukan masyarakat kita dan terlukis dalam kalimat tanya : “ngurusi masjid dapat apa ? aku tidak butuh pahala, yang kubutuhkan adalah pekerjaan nyata dengan penghasilan yang nyata pula”. Tanpa survey intensif dapat diterawang bahwa kesalahan berprinsip yang bisa kita sebut penyakit ini ternyata sudah mewabah sehingga kita pun bertambah problem ; ternyata masyarakat kita jika diajak realistis nyatanya banyak waktunya dihabiskan dengan nyangkruk dan santai-santai saja, tapi jika diajak ke arah tauhid nyatanya ragu. Ini mungkin yang dalam guyonan disebut sebagai pejuang tanggung, bukan pejuang tangguh.

MENGURUS MASJID ADALAH URUSAN TAUHID

Coba kita buka QS. Albaqarah/2, ayat : 124 sampai 129. 6 ayat secara runtut bercerita tentang Nabi Ibrahim sebagai Ta’mir dan Nabi Isma’il sebagai Remaja Masjidnya. Beliau berdua diuji ketauhidannya di luar kemampuan manusia biasa, ujian tersebut sampai kini direkonstruksi ummat Islam dalam pelaksanaan haji dan kurban. Setelah lulus melewati ujian-ujian yang dibebankan kepada Nabi Ibrahim hingga beliau diangkat sebagai Imam dengan titel Khalilullah dan masuk dalam kelompok Nabi Ulul Azmi. Perintah setelahnya adalah agar Nabi Ibrahin dan Ismail “An-Thohhiro Baitiya” membersihkan rumah Allah untuk orang-orang yang hendak ibadah di dalamnya. Baru kemudian di rumah Allah itulah Nabi Ibrahim mengabdi dengan penuh ketenangan dan do’a-do’a beliau dikabulkan hingga berkahnya masih bisa dirasakan sepanjang masa. Kemudian kita buka QS. Annur/24 : 54 -55 : 54. Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadaNya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. 55. dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. Jika direnungkan Dan jika kamu taat kepadaNya (mau perduli pada masjid dengan ikhlash semata-mata karena Allah), niscaya kamu mendapat petunjuk (ide-ide cemerlang yang menghantarkan kita agar dapat terlepas dari pengangguran ataupun problem-problem kehidupan yang kita hadapi). Allah telah berjanji (cepat atau lambat pasti dipenuhiNya) kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi (memiliki pekerjaan yang mapan) : dan hal ini bisa kita lihat Para Tokoh seperti Bung Hatta, Gus Dur, Hidayat Nur Wahid, Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar adalah sedikit dari mereka yang mengawali perjuangannya dari mengurus masjid. Masihkah kita ragu ?

APA YANG HARUS DITEMPUH

1. Kuatkan tekad untuk segera perduli pada persoalan masjid.

2. Uruslah Rumah Allah pasti Allah Mengurus yang kita butuhkan (segera teken kontrak di tengah masjid dengan Allah).

3. Ingat Hadits tentang tujuh golongan yang dilindung Allah

4. menjadi contoh dan bukan hanya memberi contoh

5. Sempurnakan keperdulian dengan banyak membaca, mengikuti perkembangan dalam pelatihan maupun lainnya (mumpung DMInya pun giat)

6. Bentuk forum seperjuangan (network), sekurang-kurangnya dengan yang punya kemauan terlebih dulu, soal kemampuan bisa diasah bareng-bareng.

7. Pererat shilatur-rahim tentang kemasjidan minimal via facebook

8. Jangan kalah dengan Patih Gajah Mada yang tidak kenal Internet, tidak kenal Bluetooth tapi mampu menyatukan nusantara.

9. Tidak salah juga dengan mendirikan koperasi kemasjidan yang dikembangkan bukan saja sebagai sarana memperkuat keuangan masjid tapi juga untuk membantu memperlancar informasi kewirausahaan (jasa layanan informasi bidang usaha dan perdagangan). 10. Dan bisa ditambahkan yang lain-lain.

PENUTUP

Memulai suatu tugas biasanya merupakan langkah paling berat. Untuk itu sebaiknya kita tidak ragu bahwa perjalanan seribu milpun dimulai dengan sebuah langkah. Banyak orang mandeg justru karena langkah awal itu, keberanian untuk memulai yang sesungguhnya ada pada diri setiap manusia banyak dilumpuhkan oleh ketakutan untuk mencoba sesuatu yang besar. Tidak berlebihan jika kemudia ada pepatah bijak mengatakan “Permulaan adalah separuh pertempuran”. So, jangan ragu bahwa semua kemuliaan datang dari keberanian untuk memulai. Maka mari segera kita perbarui tekad untuk memulai, atau mengawali kembali perduli pada masjid. Wallahu A’lam.

2 responses to this post.

  1. Posted by zainal abidin on 29 Januari 2012 at 04:24

    tulisan di atas adalah, idealisme, semangat, opsesi tak terhingga dari seorang yang mempunyai ruh al-ibadah.sepakat bahwa secara teologis, —klaim—ketauhidan kita perlu dipertanyakan, apabila watak “cuek” terhadap Islamic center (masjid) yang dibangun, dirawat, dan—maaf—dibanggakan oleh mayoritas masharakat muslim disekitarnya dengan susah payah(bahkan pertengkaran) hanya sebagai simbol keberagamaan saja. padahal multi fungsi masjid di jaman Rasalullah sudah sangat jelas sebagai tauladan peradaban umat Islam. maka sepakat denagn pemikiran Sayyid Qutub bahwa masharakat Islam akan kuat dan menjadi pelopor dunia dengan kekuatan Islam sendiri. kekuatan bukan itu bukanlah tentara Islam, apalagi negara Islam. tetapi kekuatan itu adalam Visi dan misi masharakat Islam yang berpusat di masjid sebagai Markas gerakan tidak hanya ritualitas yang hanya melahirkan kesalehan sosial—menurut KH. Sahal Mahfud—, tetapi gerakan sosial dan intelektual oleh pengurus dan jamaah masjid untuk masharakat Islam, pada khususnya.
    sebagai orang yang percaya bahwa Rasulullah sebagai orang AL-Amin, maka saya percaya pula dengan apa yang perna disabdatakan “di tangan pemudalah urusan umat”. ini menunjukkan bahwa kepercayaan yang sangat tinggi kepada generasa muda dalam membangun peradaban baru Islam, dan yang paling strategis adalah melalui masjid—suatu lembaga yang netral dari segala bendera politik dan sebagainya. pertanyaan sekaligus persoalannya adalah sejauhmanakah kepercayaan para bapak takmir terhadap remaja masjidnya?, dan sebaliknya seberapakah pengetahuan dan kesadaran remaja muslim terhadap wahana pusat kegiatan keislamannya (masjid) ?. karena itu hanya dengan semangat bersama kita semua generasi muda muslim untuk belajar dan semangat serta siap menjadi pekerja agama. disamping itu mari para takmir masjid menjadi tumpuh besar yang jernih dengan peniuh kesadaran dan kesabaran untuk membina remaja/pemudanya, sebagai mitra dalam aplikasi pekerjaan agama itu, dan menjadi “orang tua” yang dalam pembinaan struktural. selamat. (zainal ABidin)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: